Jumat, 14 September 2012
Selasa, 03 April 2012
Setelah Pelelangan Benda Temuan Kapal Tenggelam Gagal, Apa yang Akan Kita Lakukan?
Rabu, 5 Mei 2010, sedianya akan diadakan lelang benda temuan dari kapal tenggelam di perairan Cirebon. Namun, sampai batas akhir, belum ada satupun calon peserta lelang yang mendaftar. Oleh karena itu, pelelangan lebih dari 270.000 benda itu tidak terjadi. Namun secara resmi pelelangan tetap dilakukan dan disebut sebagai “lelang tidak ada peminat dan tak ada penjualan”.
Sebenarnya, sebagaimana dikatakan Sekretaris Jendral Panitia Nasional Benda Muatan Asal Kapal Tenggelam Sudirman Saad dalam sebuah konferensi pers, sejauh ini sudah ada 20 peminat dari Singapura, Cina, Hongkong, Malaysia, dan Jepang. Namun, yang memberatkan adalah karena keseluruhan dari 270.000 benda tersebut dilelang sebagai satu lot tunggal, dengan harga perkiraan minimal US$ 80 juta. Sebagai persyaratan untuk ikut menjadi peserta lelang, pendaftar juga wajib menyetor 20% dari harga perkiraan minimal itu. Tentunya, hal itu juga membuat peminat ragu-ragu untuk ikut dalam lelang tersebut.
Keputusan untuk melelang keseluruhan barang sebagai satu lot tunggal, menurut penyelenggara lelang, dimaksudkan untuk menjaga keutuhan dari benda-benda temuan itu. Rupanya, Panitia Nasional itu berharap sebuah museum bisa membeli harta karun hasil temuan ini dan mengundang para pakar arkeologi dunia untuk meneliti temuan ini lebih lanjut. Memang, temuan ini sangat penting. Pemburu harta karun bawah laut Luc Heymans mengakui bahwa temuan yang berasal dari sekitar tahun 976 Masehi itu merupakan temuan terbesar di Asia. Di dalam kapal yang diperkirakan tenggelam sekitar tahun 976 Masehi ditemukan benda-benda keramik yang berasal dari era Lima Dinasti Cina yang meliputi Dinasti Liang (907-923), Tang (923-936), Jin (936-947), Han (947-951), dan Zhou (951-960, benda kerajinan gelas yang berasal dari Kerajaan Sasanian (Persia), sarung golok emas dan kristal batu yang diperkirakan merupakan peninggalan Dinasti Fatimiyah (909-1711). Menurutnya, temuan itu setara dengan temuan harta kapal jenis galeon Spanyol Atocha yang tenggelam di perairan Florida, Amerika Serikat, tahun 1622, yang sempat menggegerkan dunia ketika ditemukan tahun 1980-an.
Ketika pertama kali menyelam di perairan utara Cirebon, Jawa Barat, pada 2004, Heymans tidak bisa percaya apa yang muncul dari kegelapan di dasar laut: situs itu merupakan “gunung porselen”. “Ketika itu, perdagangan dan pelayaran antara Jazirah Arab-India-Sumatera dan Jawa sangat ramai,” tutur Heymans. Ia dan timnya baru berhasil mengangkat semua barang itu ke darat setelah melakukan lebih dari 20.000 kali penyelaman. Walau selama era Lima Dinasti banyak terjadi perdagangan antara Cina dengan Arab dan India yang melewati Jawa dan Sumatra, banyaknya potongan porselen Cina kekaisaran dan ditemukannya sarung golok emas, membuatnya memperkirakan bahwa kemungkinan ada duta besar di atas kapal itu. Yang jelas, temuan asal kapal tenggelam ini bisa menjadi benda bukti yang dapat menambah pengetahuan kita tentang sejarah dan kehidupan di masa lampau.
Rencana lelang benda arkeologis seperti ini pasti mengundang kontroversi. Beberapa kalangan menentang rencana itu dan berharap bahwa benda itu bisa tetap berada di Indonesia. Walau hampir 1.000 benda yang dikategorikan sebagai benda cagar budaya di antara temuan itu sudah diamankan untuk digunakan kepentingan negara, pihak-pihak yang menentang rencana lelang itu mengharapkan agar benda-benda itu bisa tetap berada dalam penguasaan negara. Sementara kita perlu memikirkan pelestarian sejarah dan budaya kita, kita juga perlu menyadari keterbatasan kita. Mungkin kita perlu menyadari bahwa untuk menyimpan, merawat dan memanfaatkan benda-benda yang sudah ada dalam koleksinya saja, museum-museum kita tidak/belum sanggup, apalagi menangani tambahan ratusan ribu benda koleksi baru. Selain itu, kita juga perlu memahami bahwa untuk memanfaatkan benda-benda temuan itu, kita tidak perlu menyimpan keseluruhannya. Yang penting, beberapa sampel yang signifikan dan mewakili keseluruhan koleksi dapat tetap disimpan untuk keperluan keilmuan arkeologi, permuseuman, dan sejarah. Namun yang terpenting untuk dicermati dalam hal benda budaya seperti itu adalah bahwa pada situs kapal tenggelam itu sudah diteliti dengan seksama, dicatat dan didokumentasikan dengan lengkap dan benar, agar informasinya dapat tetap dimanfaatkan di kemudian hari.
Menurut informasi yang diperoleh Adi Agung Tirtamarta, Presiden Direktur PT Paradigma Putra Sejahtera, yang memiliki wewenang atas lokasi kapal tenggelam, antara abad ke-9 dan ke-20 ada sekitar 10.000 kapal Cina yang berlayar ke arah kepulauan Nusantara dan tidak kembali ke Cina. Angka itu belum termasuk kapal-kapal dari negara-negara lain. Sumber lain memperkirakan bahwa ada lebih dari 20.000. Intinya, jumlah kapal tenggelam banyak sekali.
Selama ini benda muatan asal kapal tenggelam yang berasal dari kepulauan Indonesia telah dijarah oleh para pemburu harta karun profesional yang kurang peduli pentingnya dilakukannya penelitian arkeologis dan pendataan pada temuan-temuan kapal tenggelam tersebut. Pada tahun 1980-an, benda-benda temuan yang dikenal sebagai Kargo Nanking dilelang di Belanda. Kargo yang diangkut kapal VOC Geldennalsen dan karam di perairan Riau tahun 1751, itu ditemukan dan diangkat ke darat oleh pemburu harta karun notorius berkebangsaan Inggris, Michael Hatcher.
Hatcher bukan satu-satunya pemburu harta karun itu. Pada tahun 1998, pemburu harta karun Jerman Tilman Walterfang menemukan lebih dari 60.000 buah keramik kuno Cina yang berasal dari Dinasti Tang (618-907 M) di perairan Bangka-Belitung. Temuan yang dikenal sebagai Kargo Tang itu merupakan suatu penemuan yang dianggap salah satu terpenting di Asia, karena membantu para ahli arkeologi memahami lebih jauh tentang rute perdagangan kuno yang dikenal sebagai ‘Jalan Sutera Laut’. Sementara benda-benda itu diperkirakan bernilai US $ 80 juta. Pemerintah Indonesia akhirnya dibayar $ 2,5 juta dan mendapat beberapa barang yang tidak laku terjual. Sebagaimana dilaporkan majalah berita Jerman Der Spiegel (Jan 2006), sebagian benda-benda keramik itu dijual kepada pemerintah Singapura pada 2005 dengan harga US$ 32 juta. Artefak-artefak itu akan menjadi koleksi inti dari Museum Jalan Sutra Maritim Singapura yang rencananya akan dibuka tahun 2010 ini.
Tahun 2000, kargo terdiri dari 350,000 benda yang berasal dari kapal Tek Sing yang karam tahun 1822 ditemukan dan diangkat dari perairan Bangka-Belitung secara diam-diam oleh pemburu harta karun yang sama, dilelang di Jerman. Pemerintah Indonesia berhasil merundingkan pembagian hasil separuh dari hasil temuan itu dan berhasil mendapatkan dana sejumlah DM 22,4 juta kurang lebih Rp 90 milyar. Walau pun pemerintah sudah lebih tanggap dalam memastikan negara mendapatkan bagian dari hasil upaya pengangkatan benda muatan kapal tenggelam, bagaimana benda-benda dapat dilarikan ke luar negeri masih perlu diselidiki lebih lanjut.
Melihat meningkatnya penjarahan dan penghancuran warisan budaya bawah air terutama karena ulah para pemburu harta yang tidak bertanggung jawab, pada 2001 UNESCO merancang Konvensi tentang Perlindungan Warisan Budaya Bawah Air. Konvensi itu mewajibkan negara peserta melestarikan warisan budaya bawah air untuk kepentingan kemanusiaan dan mengambil tindakan yang sesuai. Walaupun tidak diwajibkan melakukan penggalian arkeologis segera, negara peserta perlu mengambil tindakan sesuai dengan kemampuan mereka, terutama untuk penelitian ilmiah dan akses publik. Pelestarian in-situ (pada lokasi temuan) menjadi opsi pertama dalam mengizinkan atau terlibat dalam kegiatan yang diarahkan pada benda warisan itu. Namun, pengangkatan benda dapat diizinkan jika dilakukan untuk memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perlindungan dan/atau pengetahuan tentang warisan budaya bawah air. Konvensi itu menetapkan bahwa warisan budaya bawah air seharusnya tidak dieksploitasi secara komersial untuk perdagangan atau spekulasi, dan tidak boleh dipisahkan sedemikian rupa hingga tidak dapat didapatkan kembali. Secara teoritis, konvensi itu sangat baik, namun bagi negara kepulauan seperti Indonesia dengan begitu banyak situs kapal tenggelam, hal itu tentunya juga menjadi beban yang sangat besar. Mungkin karena itulah hingga kini Indonesia belum meratifikasi perjanjian itu.
Sebenarnya, Panitia Nasional Benda Muatan Asal Kapal Tenggelam sangat berharap sebuah museum bisa membeli harta karun hasil temuan ini kemudian mengundang para pakar arkeologi dunia untuk meneliti temuan ini lebih lanjut. Karena itulah benda-benda temuan di lepas laut Cirebon ini ditawarkan sebagai lot tunggal. Namun, tentunya hal itu mengakibatkan jumlah calon penawar menjadi terbatas. Hanyalah pihak-pihak yang sanggup menyisihkan dana sebesar paling tidak US $ 80 juta yang dapat ikut menawar. Untuk meminta persetujuan anggaran untuk akuisisi koleksi yang tidak kecil itu, museum-museum manca negara akan membutuhkan waktu yang cukup lama agar dapat melakukan pemeriksaan yang menyeluruh terhadap koleksi tersebut. Waktu satu atau dua bulan saja tidaklah cukup, apalagi informasi tentang akan dilakukannya pelelangan ini baru muncul sekilas sekitar 1 bulan sebelum acara pelelangan, dan baru mulai ramai dibicarakan hanya beberapa hari sebelum acara berlangsung. Promosi tentang acara lelang ini mengandalkan pemberitaan saja. Tidak tersedia website yang memberikan informasi tentang rencana dan prosedur lelang, sehingga hanya beberapa calon pembeli yang mengetahui tentang hal itu.
Perlu diperhatikan bahwa akuisisi Kargo Tang oleh pihak Singapura memerlukan waktu sejak negosiasi awal hingga pembayaran akhir dilakukan. Pada 2004 Sentosa Development Corporation mengumumkan bahwa pihaknya memperoleh hak untuk memamerkan —dengan opsi untuk sekaligus dapat membeli— koleksi benda Kargo Tang tersebut. Bersamaan dengan rencana pembentukan Yayasan Warisan Maritim Singapura, ahli waris dari pengusaha Tan Sri Khoo Teck Puat, salah satu pengusaha terkaya di Asia Tenggara, mengibahkan sejumlah dana sebagai penghormatan pada Almarhum, sehingga tersedia dana yang cukup untuk mengakuisisi Kargo Tang tersebut. Kemudian negosiasi pembelian koleksi itu dituntaskan pada 2005. Walaupun kesannya cukup singkat, tapi sebenarnya sebelum negosiasi terjadi pun pihak pembeli pasti sudah melakukan proses due diligence yang menyeluruh atas koleksi tersebut.
Sebenarnya, gagalnya pelelangan benda temuan kapal tenggelam ini, dan begitu besarnya perhatian media massa dan masyarakat atas hal ini, perlu segera dimanfaatkan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Kalau memang sudah ada gagasan untuk menawarkan koleksi ini sebagai suatu bahan bagi museum pembelinya untuk dapat mengundang para pakar arkeologi dunia untuk meneliti temuan ini lebih lanjut, mengapa gagasan itu tidak ditindaklanjuti sendiri saja. Momentum kepedulian pada koleksi ini perlu segera dimanfaatkan dengan menyiapkan suatu pameran yang dapat menumbuhkan minat masyarakat atas sejarah dan budaya mereka sendiri. Siapa tahu, Pemerintah sekalian bersedia membangun sebuah Museum Maritim Bawah Laut yang menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik akan menelan biaya sekitar Rp. 450 miliar. Tentu itu belum termasuk biaya pengelolaan harian dan perawatan koleksi museum itu. Permasalahan ini juga kemudian mengundang banyak pertanyaan lain: apakah kita sudah memiliki sumber daya manusia yang memadai? apakah perundang-undangan kita sudah cukup mendukung filantropi swasta untuk pelestarian budaya? Kemudian apakah nanti museum itu akan terus dikunjungi masyarakat, ataukah minat masyarakat akan sudah reda ketika permasalahan ini juga sudah surut?
Yang jelas kita perlu menyadari bahwa melestarikan benda-benda temuan kapal tenggelam di negara kepulauan seperti Indonesia yang juga merupakan salah satu pusat karamnya kapal terbesar di dunia, bukanlah hal yang mudah. UNESCO boleh saja mendesak kita ikut meratifikasi Konvensi tentang Perlindungan Warisan Budaya Bawah Air, tapi lembaga itu juga perlu mempertimbangkan kesulitan yang kita akan hadapi untuk dapat melestarikan semua situs yang ada di kawasan kita dengan benar. Marilah kita mengkaji lagi: apa yang dapat/perlu/harus kita lakukan agar kita bisa melestarikan semua titik temuan kapal tenggelam? Atau, sebenarnya mampu dan maukah kita melakukannya?
--Amir Sidharta
--Amir Sidharta
Rabu, 19 Oktober 2011
Nabil Award 2011: Ibu Saparinah Sadli
Tanggal 12 Oktober 2011 yang lalu, Nabil Award diberikan kepada Ibu Saparinah Sadli, terutama untuk jasanya di bidang gender dan kemanusiaan. Tentunya Ibu Saparinah sangat layak menerima penghargaan dalam bidang "nation building" itu.
Dalam pidatonya yang sangat tegar dan runtut, ia memberikan pemahaman tentang permasalahan diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan yang masih terus terjadi:
".. masih maraknya diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan yang disebabkan karena ketidaksetaraan antara perempuan dan laki-laki atau ketidaksetaraan gender. Sesuatu kondisi yang bukan isu perempuan karena gender tidak identik dengan perempuan. Gender adalah hasil internalisasi sejak seseorang dilahirkan secara biologis dan kemudian segera belajar untuk bisa menjadi manusia yang beradab.
Ada pun misinterpretasi terhadap istilah gender berkontribusi pada bertahannya diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan. Sehingga perlu dicari bersama bagaimana agar isu gender seperti diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan diyakini sebagai bukan isu perempuan tetapi isu kemanusiaan yang beradab. "
Selamat dan terima kasih, Ibu Sap, untuk perjuanganmu yang tidak kenal lelah, bagi kemanusiaan.
- - -
LAPORAN NABIL AWARD 12 OKTOBER 2011
Yayasan Melly dan Eddie Lembong untuk Nation Building (Nabil) kembali menganugerahkan Nabil Award, pada tanggal 12 Oktober 2011. Tahun ini adalah perayaan yang ke lima, dengan tema: “MEMULIAKAN KEMANUSIAAN: …TERNYATA KITA SEMUA BERSAUDARA“. Adapun pemenangnya adalah Prof. (Emeritus) Dr. Saparinah Sadli, salah satu pelopor di bidang studi perempuan dan gender di Indonesia, serta seorang aktivis di bidang isu perempuan dan kemanusiaan. Kemenangan ini menjadikan beliau sebagai pemenang ke-10 Nabil Award.
Ketua Pendiri Yayasan Nabil, Eddie Lembong, berhalangan hadir karena alasan kesehatan dan diwakili oleh Melly Lembong beserta kedua putra, Andre dan Roy Lembong. Mereka tampil ke muka menyerahkan hadiah bagi Saparinah. Uniknya, pemenang kemudian meneruskan hadiah uang yang diterimanya kepada tiga organisasi perempuan: Pundi Perempuan (Komnas Perempuan), Yayasan Pendidikan Nusantara Kartini dan Saparinah Sadli Award.
Sebagai penghormatan atas komitmen dan kepedulian Saparinah pada isu perempuan dan gender, maka Eddie Lembong berinisiatif menambahkan jumlah hadiah yang diberikan oleh Saparinah kepada tiga pihak yang telah dipilih, dengan jumlah yang sama.
Dalam pidato pertanggungjawaban, anggota Dewan Pakar Nabil, Didi Kwartanada menyebutkan tiga aspek sumbangsih Saparinah Sadli yang dinilai memenuhi kriteria pemenang Nabil Award. Pertama kontribusi Saparinah dalam bidang psikologi. Kedua, sumbangsih Saparinah dalam bidang studi perempuan dan gender. Ketiga, Saparinah selaku Aktivis isu perempuan dan kemanusiaan
Sisi aktivisme Saparinah dalam perjuangan menentang kekerasan terhadap perempuan memuncak karena meletusnya Tragedi Mei 1998. Saat terdengar kabar terjadinya pelecehan seksual terhadap kalangan perempuan, yang juga menimpa perempuan dari kalangan Tionghoa, ia mampu menyatukan tokoh-tokoh perempuan dari berbagai elemen. Bersama-sama mereka menghadap Presiden Habibie dan meminta pemerintah untuk minta maaf atas kekerasan seksual tersebut serta menindaklanjutinya. Bola salju yang digulirkan Saparinah dan kawan-kawannya ini kemudian menjadi semakin besar dengan dibentuknya Komnas Perempuan, yang hingga kini tetap teguh berjuang dalam persoalan kekerasan terhadap perempuan. Saparinah menjadi ketua pertama Komnas Perempuan hingga tahun 2002, di samping juga menjabat Wakil Ketua Komnas HAM dari 1999-2001.
Di bulan Mei 2007, Komnas Perempuan menunjuk Saparinah selaku “Pelapor Khusus tentang Kekerasan Seksual Mei 1998 dan Dampaknya”. Hasil pelaporan Saparinah dan Komnas Perempuan ini ternyata mampu memberikan perasaan “tidak sendiri” pada perempuan Tionghoa. Sebelumnya mereka merasa harus bergulat sendirian dengan masalah dan ingatan tentang kekerasan terhadap perempuan dalam kerusuhan Mei 1998.
Maka dari sudut kebangsaan, aksi humaniter yang dilakukan Saparinah bersama kawan-kawan merupakan upaya memperkuat “mata rantai lemah” dalam nation building kita, yakni menggandeng etnis Tionghoa sebagai sesama elemen bangsa yang sederajat dan setara, tanpa adanya sekat-sekat pembedaan.
Dalam pidato penerimaannya, Saparinah menekankan pentingnya sila ke 2 Panca Sila yang ditambah kata 'jender', sehingga menjadi “Kemanusiaan yang Adil Jender dan Beradab” dan sedikit penjelasan mengapa hal itu penting.
Hadir pula dalam acara tersebut adalah Sinta Nuriyah Wahid, Prof Dr Juwono Soedarsono, AM Fatwa serta tokoh-tokoh Tionghoa seperti Pandji Wisaksana, Yoza Suryawan dan Bambang Suryono (Pemred Guoji). ***
- - -
Pidato Ibu Saparinah:
Membangun Bangsa:
Mewujudkan Kemanusiaan yang Adil Gender dan Beradab#
Ass Wr Wb,
Slamat sore Hadirin Yth,
Pertama-tama saya ingin menyampaikan terimakasih atas kesediaan saudara-saudara yang telah meluangkan waktu untuk hadir pada malam pemberian Nabil Award tahun ke-5, yang pilihannya jatuh kepada saya. Yayasan Nabil adalah organsasi yang mempunyai visi dan misi membangun bangsa (nation building). Justru terkait dengan visi dan misi Yayasan Nabil inilah maka saya tertegun dan ragu ketika Ketua Yayasan Nabil, Drs. Eddie Lembong menyampaikan bahwa sayalah yang terpilih. Saya menyampaikan bahwa apa yang saya kerjakan, khususnya saat terjadi kerusuhan yang sekarang dikenal sebagai Tragedi Mei 1998, tidak hanya menyangkut pribadi saya tetapi merupakan hasil kerja BERSAMA sejumlah perempuan dari berbagai usia, agama dan etnisitas. Karenanya, saya anggap bahwa Nabil Award yang meskipun diterimakan kepada saya, bukan hanya untuk saya tetapi juga untuk mereka. Para perempuan yang telah mengajak saya untuk bersama bergerak terhadap terjadinya pelanggaran hak asasi manusia, khusunya pelanggaran hak asasi perempuan saat terjadi kerusuhan bulan mei 1990 yang hingga kini masih meninggalkan berbagai segi gelap. Untuk ini saya ingin terlebih dahulu memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa apa yang pernah saya kerjakan dianggap berguna dalam kehidupan bersama. Apalagi mengingat bahwa kerja perempuan lebih banyak dianggap biasa, hingga jarang mendapat perhatian khusus. Yayasan Nabil merupakan pengecualian karena dari 10 Award yang pernah diberikan, 6 diantaranya diberikan kepada perempuan.
Perempuan Indonesia dalam membangun bangsa sebenarnya tidak pernah absen. Sejak sebelum kemerdekaan. Namun kontribusi mereka jarang tercatat dalam sejarah bangsa. Sebagai generasi pertama, mereka cikal bakal gerakan perempuan Indonesia yang telah merintis, dengan cara dan strategi sesuai zamannya, membangun kemanusiaan yang adil dan beradab. Tema yang telah saya pilih untuk dibahas dari perspektif gender.
Hadirin yang terhormat,
Refleksi terhadap kerusuhan Bulan Mei 1998 menunjukkan bahwa peristiwa ini telah meninggalkan trauma bagi para korbannya yang sebagian besar terdiri dari warga miskin kota dan sejumlah perempuan keturunan etnik Tionghoa yang telah mengalami perkosaan massal. Suatu peristiwa yang mengejutkan meskipun kekerasan terhadap perempuan sebenarnya sudah ada sejak peradaban manusia. Tetapi di Indonesia untuk pertama kalinya diangkat sebagai isu publik.
Sehubungan dengan itu, saya memilih sebagai topik bahasan Mewujudkan Kemanusiaan yang Adil GENDER dan Beradab karena formulasi yang neutral gender dalam implementasinya seringkali menyebabkan bahwa kekhususan warga tertentu, seperti perempuan, lepas dari perhatian. Apalagi hingga sekarang masih ada stereotipi yang dianut oleh banyak laki-laki dan juga perempuan yang menempatkan peremuan inferior dibandingkan dengan laki-laki (yang superior). Juga karena nilai-nilai adat, budaya, agama, juga masih ada yang menempatkan perempuan sebagai ‘kurang sempurna’. Sehingga dalam kehidupan bersama diskriminasi terhadap perempuan tetap terjadi meskipun kita sudah memiliki undang-undang tentang penghapusan diskriminasi terhadap perempuan dan kebijakan pengarusutamaan gender yang secara de jure menjanjikan tercapainya kesetaraan gender. Namun, kalaupun berjalan, secara de facto masih berlangsung lamban. Kunci permasalahannya terletak pad aelit politik, perempuan dan laki-laki, yang masih memandang sebelah mata berbagai isu perempuan dan meminggirkannya sebagai tanggungjawab perempuan dan bukan tanggungjawab bersama.
Jika tema yang saya pilih terkait pada Sila ke-2 dari Pancasila, hal ini sama sekali btidak ada keinginan mengubah formulasinya, tetapi lebih ingin mendudukkan permasalahan yang terutama dialami perempuan sebagai permasalahan sesama manusia. Seperti masih maraknya diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan yang disebabkan karena ketidaksetaraan antara perempuan dan laki-laki atau ketidaksetaraan gender. Sesuatu kondisi yang bukan isu perempuan karena gender tidak identik dengan perempuan. Gender adalah hasil internalisasi sejak seseorang dilahirkan secara biologis dan kemudian segera belajar untuk bisa menjadi manusia yang beradab.
Adapaun misinterpretasi terhadap istilah gender berkontribusi pada bertahannya diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan. Sehingga perlu dicari bersama bagaimana agar isu gender seperti diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan diyakini sebagai bukan isu perempuan tetapi isu kemanusiaan yang beradab. Dalam masyarakat kita yang patriarkhal danmasih rindu akan pentauladanan, isu gender masih membutuhkan perhatian bersama, terutama dari para elit politik dan lain warga yang diposisikan untuk memberi tauladan.
Perkosaan adalah suatu bentuk kekerasan berbasis gender. Perempuan yang diperkosa atau mengalami percobaan perkosaan sama-sama mengalami trauma yang berdampak pada seluruh jati diri perempuan meskipun yang diserang adalah fisiknya. Para analisis gender menggolongkan perkosaan sebagai salah satu bentuk kekerasan berbasis gender yang bersumber pada ketimpangan kekuasaan dalam relasi laki-laki dan perempuan.
Relasi gender yang timpang terus menggejala di tengah-tengah proses perubahan masyarakat yang kini membuka peluang lebar bagi perempuan dan laki-laki untuk menyumbang tenaga dan fikirannya bagi pembangunan bangsa sehingga sekarang cukup banya perempuan dapat memilih untuk berkiprah di ruang publik. Tidak hanya karena terpaksa atau untuk menopang ekonomi keluarganya, tetapi juga untuk dapat mengaktualisasikan potensi dirinya secara optimal. Namun demikian, tidak bisa diingkari bahwa sampai hari ini masih cukup banyak perempuan mengalami diskriminasi dan belum selalu diperlakukan secara adil.
Bahwa kekerasan terahdap perempuan justru meningkat dalam dekade terakhir ini dilaporkan oleh Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), lembaga yang didirikan dalam Oktober 1998 sebagai hasil tuntutan sejumlah perempuan pada pemerintahan Pasca Orde Baru. Komnas Perempuan Sejak 2002 secara rutin mengumumkan hasil dokumentasinya yang antara lain mencatat bahwa: berbagai bentuk kekerasan berbasis gender setiap tahunnya meningkat baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Korbannya terdiri dari perempuan dan anak perempuan lintas pendidikan, agama, sosial ekonomi dan etnisitas. Pelakunya adalah negara, komunitas dan individu (termasuk suami, pacar, kakak, kakek dan tetangga dekat). Juga tercatat adanya sejumlah PERDA yang mendiskriminasikan perempuan dengan mengatur sekaligus mengontrol penampilan dan perilaku perempuan. Suatu kondisi sosial yang mencerminkan bahwa aspirasi bangsa untuk membangun Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia (Sila ke-5) dan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Sila ke-2) meskipun sudah ada landasan legalnya, namun secara de facto belum bisa dinikmati seluruh warga, khususnya perempuan.
Artinya: sudah 66 tahun merdeka dan telah pula berupaya membangun jati diri bangsa sesuai filsafat negara. Yaitu menghormati keberagaman nilai-nilai budaya dan agama, mengupayakan kesejahteraan untuk semua, dan belajar menghormati perbedaan antar manusia. Bahwa hingga sekarang kelompok manusia yang berjenis kelamin perempuan masih mengalami berbagai bentuk diskriminasi dan kekerasan berbasis gender menunjukkan bahwa menghormati hak asasi perempuan sebagai sesama manusia masih merupakan impian bagi cukup banyak perempuan. Contohnya: di tengah-tengah kesempatan yang telah bisa diraih dan dinikmati perempuan Indonesia, masih saja lebih banyak anak perempuan dibandingkan anak laki-laki yang hak pendidikannya dilanggar. Karena meskipun ada Wajib Belajar 9 Tahun, akses anak perempuan terhadap pendidikan masih mengalami kendala, khusunya anak perempuan keluarga ekonomi kurang mampu. Mereka tetap dihadang oleh tradisi dan nilai budaya yang lebih mementingkan pendidikan anak laki-aki yang diposisikan sebagai calon kepala keluarga. Faktor lain yang terus menggejalanya kawin dini bagi anak perempua yang selain karena tradisi juga karena dihimpit kondisi sosial ekonomi yang rendah. Tidak terpenuhinya hak pendidikan anak perempuan akhir-akhir ini makin diperparah dengan menggejalanya perdagangan anak perempuan. Faktor-faktor yang selanjutnya berkontribusi pada terlanggarnya hak kesehatan reproduksi perempuan. Karena terjadi kehamilian pada usia dini yang berarti sistem dan organ reproduksinya belum siap mendukung kehamilannya. Sedang aborsi tidak aman telah berkontribusi sebanyak 13% pada Angka Kematian Ibu (AKI), yang masih tertinggi di Asia, yang berarati hak hidup perempuan Indonesia masih dilanggar. Ini berlangsung di tengah-tengah kemajuan tekhnologi kedokteran yang sebenarnya dapat membantu agar ketika ibumelahirkan tidak perlu mengakibatkan kematian. Masih dialnggarnya hak pendidikan anak perempuan berarti bahwa akses perempuan pada berbagai informasi dibendung. Masih dilanggarnya hak pendidikan anak perempuan karenanya adalah isu gender yang serius karena berkontribusi pada sulitnya memutuskan siklus kemiskinan jutaan manusia Indonesia.
Semua ini adalah sekelumit contoh bahwa masih berlangsungnya diskriminasi dan kekerasan berbasis gender maka aspirasi meujudkan kemanusiaan yang adil dan beradab belum bisa dinikmati setiap perempuan. Ironisnya adalah bahwa diskriminasi berbasis gender juga dilakukan oleh para elit politik. Contohnya: ketika diumumkan bahwa calon menteri perempuan perlu memenuhi kriteria ‘harus berkualitas’. Suatu kriteria yang tidak berlaku bagi calon menteri laki-laki. Namun, ketika dilansir di media, ternyata anggota masyarakat pada umumnya menganggap sebagai ‘lumrah’ atau biasa. Sedang kekerasan verbal yang dilontarkan seorang pejabat dalam kaitannya dengan perkosaan adalah contoh bahwa ‘mindset’ para elit politik tidak menganggap diskriminasi terhadap perempuan sebagai maslah negara/nasional yang merugikan kemanusiaan warga yang berjenis kelamin perempuan. Ini terjadi meskipun 27 tahun yang lalu Indonesia mensyahkan UU No. 7/84 tentang Penghapusan segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (hasil ratifikasi CEDAW).
Tetapi perlu diakui bahwa relasi perempuan dan laki-laki dalam berbagai peran domestik dan publik jelas mengalami perubahan. Cukup banyak suami yang menganggap istrinya sebagai ‘mitra sejajar’, banyak laki-laki yang berperan sebagai atasan memberlakukan sekretarisnya yang kebanyakan terdiri dari perempuan, sebagai sesama rekan kerja. Namun, ini tidak berarti bahwa kekerasan domestik berbasis gender sudah berhenti sebagaimana dilaporkan oleh Kepolisian, Rumah Sakit, Pengadilan Agama dan Women’s Crisis Centers. Bahwa kekerasan berbasis gender di lingkup kerja publik belum banyak dilaporkan disebabkan karena masih disimpan rapih di belakang pintu kantor. Alasannya bermacam, seperti: perempuan korban masih malu dan takut melaporkannya, perempuan korban MEMILIH mengalah dengan cara pindah kerja atau malah berhenti kerja di ruang publik. Hal ini diperparah dengan masih adanya stigmatisasi publik yang lebih cepat menyalahkan korban daripada pelakunya.
Hadirin Yth,
Bila kita serius ingin mewujudkan kemanusiaan yang adil dan beradab dalam artian adil bagi laki-laki dan perempuan dan menumbukan rasa aman bagi semua, maka beberapa hal masih menjadi pekerjaan rumah bersama, seperti:
- Para elit politik, tokoh agama, pendidik dan masyarakat hingga orangtua menyadari bahwa penghapusan ketidaksetaraan perempuan dan laki-laki dalam mengisi peran domestik dan publiknya adalah tanggung jawab bersama. Meskipun perempuan sudah bisa aktif di berbagai ruang publik, malahan sudah bisa memasuki jenis pekerjaan yang tadinya dimonopoli oleh laki-laki, tidak sekaligus berarti ketidaksetaraan perempuan dan laki-laki telah usai.
- Kebijakan menghimpun data yang terpilah gender sampai sekarang masih terbatas. Padahal kebijakan negara yang dibuat tanpa data terpilah gender merupakan salah satu sebab bahwa kebutuhan khusus perempuan tidak diperhatikan.
- Diskriminasi dan kekerasan berbasis gender terjadi baik saat damai maupun ketika terjadi konflik. Kerentanan perempuan dalam situasi konflik terjadi sejak awal hingga usainya konflik. Tetapi kebijakan yang dibuat ketika terjadi konflik atau terjadi bencana alam hampir tidak pernah memperhatikan kebutuhan khusus perempuan. Terlupakan bahwa dalam situasi pasca konflik atau terjadi bencana alam perempuan tetap dibebani dengan tugas-tugas domestiknya. Kita masih memerlukan lebih banya pembuat kebijakan yang sensitif gender dan memahami bahwa perbedaan biologis dan psikososial antara perempuan dan laki-laki perlu diperhatikan kalau kita ingin mewujudkan Kemanusiaan yang Adil Gender dan Beradab.
Demikianlah apa yang ingin saya sampaikan pada kesempatan ini. Terimakasih atas perhatian Saudara sekalian dan kepada Yayasan Nabil yang memberi ruang kepada saya untuk membahas pembangunan bangsa dari perspektif gender. Khususnya kepada ketua Yayasan Nabil, Drs. Eddie Lembong yang berhalangan hadir sore hari ini, saya ikut mendoakan semoga kesehatannya akan cepat pulih kembali dan bisa beraktivitas speerti semula. Amien. Wss. Wr. Wb.
Kamis, 06 Oktober 2011
Remembering Steve Jobs: commencement address at Stanford University in 2005.
the text:
I am honored to be with you today at your commencement from one of the finest universities in the world. I never graduated from college. Truth be told, this is the closest I've ever gotten to a college graduation. Today I want to tell you three stories from my life. That's it. No big deal. Just three stories.
The first story is about connecting the dots. I dropped out of Reed College after the first 6 months, but then stayed around as a drop-in for another 18 months or so before I really quit. So why did I drop out?
It started before I was born. My biological mother was a young, unwed college graduate student, and she decided to put me up for adoption. She felt very strongly that I should be adopted by college graduates, so everything was all set for me to be adopted at birth by a lawyer and his wife. Except that when I popped out they decided at the last minute that they really wanted a girl. So my parents, who were on a waiting list, got a call in the middle of the night asking: "We have an unexpected baby boy; do you want him?" They said: "Of course." My biological mother later found out that my mother had never graduated from college and that my father had never graduated from high school. She refused to sign the final adoption papers. She only relented a few months later when my parents promised that I would someday go to college.
And 17 years later I did go to college. But I naively chose a college that was almost as expensive as Stanford, and all of my working-class parents' savings were being spent on my college tuition. After six months, I couldn't see the value in it. I had no idea what I wanted to do with my life and no idea how college was going to help me figure it out. And here I was spending all of the money my parents had saved their entire life. So I decided to drop out and trust that it would all work out OK. It was pretty scary at the time, but looking back it was one of the best decisions I ever made. The minute I dropped out I could stop taking the required classes that didn't interest me, and begin dropping in on the ones that looked interesting.
It wasn't all romantic. I didn't have a dorm room, so I slept on the floor in friends' rooms, I returned coke bottles for the 5¢ deposits to buy food with, and I would walk the 7 miles across town every Sunday night to get one good meal a week at the Hare Krishna temple. I loved it. And much of what I stumbled into by following my curiosity and intuition turned out to be priceless later on.
Let me give you one example:
Reed College at that time offered perhaps the best calligraphy instruction in the country. Throughout the campus every poster, every label on every drawer, was beautifully hand calligraphed. Because I had dropped out and didn't have to take the normal classes, I decided to take a calligraphy class to learn how to do this. I learned about serif and san serif typefaces, about varying the amount of space between different letter combinations, about what makes great typography great. It was beautiful, historical, artistically subtle in a way that science can't capture, and I found it fascinating.
None of this had even a hope of any practical application in my life. But ten years later, when we were designing the first Macintosh computer, it all came back to me. And we designed it all into the Mac. It was the first computer with beautiful typography. If I had never dropped in on that single course in college, the Mac would have never had multiple typefaces or proportionally spaced fonts. And since Windows just copied the Mac, it's likely that no personal computer would have them. If I had never dropped out, I would have never dropped in on this calligraphy class, and personal computers might not have the wonderful typography that they do. Of course it was impossible to connect the dots looking forward when I was in college. But it was very, very clear looking backwards ten years later.
Again, you can't connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something - your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life.
My second story is about love and loss. I was lucky - I found what I loved to do early in life. Woz and I started Apple in my parents garage when I was 20. We worked hard, and in 10 years Apple had grown from just the two of us in a garage into a $2 billion company with over 4000 employees. We had just released our finest creation - the Macintosh - a year earlier, and I had just turned 30. And then I got fired. How can you get fired from a company you started? Well, as Apple grew we hired someone who I thought was very talented to run the company with me, and for the first year or so things went well. But then our visions of the future began to diverge and eventually we had a falling out. When we did, our Board of Directors sided with him. So at 30 I was out. And very publicly out. What had been the focus of my entire adult life was gone, and it was devastating.
I really didn't know what to do for a few months. I felt that I had let the previous generation of entrepreneurs down - that I had dropped the baton as it was being passed to me. I met with David Packard and Bob Noyce and tried to apologize for screwing up so badly. I was a very public failure, and I even thought about running away from the valley. But something slowly began to dawn on me - I still loved what I did. The turn of events at Apple had not changed that one bit. I had been rejected, but I was still in love. And so I decided to start over.
I didn't see it then, but it turned out that getting fired from Apple was the best thing that could have ever happened to me. The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life.
During the next five years, I started a company named NeXT, another company named Pixar, and fell in love with an amazing woman who would become my wife. Pixar went on to create the worlds first computer animated feature film, Toy Story, and is now the most successful animation studio in the world. In a remarkable turn of events, Apple bought NeXT, I returned to Apple, and the technology we developed at NeXT is at the heart of Apple's current renaissance. And Laurene and I have a wonderful family together.
I'm pretty sure none of this would have happened if I hadn't been fired from Apple. It was awful tasting medicine, but I guess the patient needed it. Sometimes life hits you in the head with a brick. Don't lose faith. I'm convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You've got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven't found it yet, keep looking. Don't settle. As with all matters of the heart, you'll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don't settle.
My third story is about death. When I was 17, I read a quote that went something like: "If you live each day as if it was your last, someday you'll most certainly be right." It made an impression on me, and since then, for the past 33 years, I have looked in the mirror every morning and asked myself: "If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?" And whenever the answer has been "No" for too many days in a row, I know I need to change something.
Remembering that I'll be dead soon is the most important tool I've ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything - all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure - these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart.
About a year ago I was diagnosed with cancer. I had a scan at 7:30 in the morning, and it clearly showed a tumor on my pancreas. I didn't even know what a pancreas was. The doctors told me this was almost certainly a type of cancer that is incurable, and that I should expect to live no longer than three to six months. My doctor advised me to go home and get my affairs in order, which is doctor's code for prepare to die. It means to try to tell your kids everything you thought you'd have the next 10 years to tell them in just a few months. It means to make sure everything is buttoned up so that it will be as easy as possible for your family. It means to say your goodbyes.
I lived with that diagnosis all day. Later that evening I had a biopsy, where they stuck an endoscope down my throat, through my stomach and into my intestines, put a needle into my pancreas and got a few cells from the tumor. I was sedated, but my wife, who was there, told me that when they viewed the cells under a microscope the doctors started crying because it turned out to be a very rare form of pancreatic cancer that is curable with surgery. I had the surgery and I'm fine now.
This was the closest I've been to facing death, and I hope it's the closest I get for a few more decades. Having lived through it, I can now say this to you with a bit more certainty than when death was a useful but purely intellectual concept:
No one wants to die. Even people who want to go to heaven don't want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life's change agent. It clears out the old to make way for the new. Right now the new is you, but someday not too long from now, you will gradually become the old and be cleared away. Sorry to be so dramatic, but it is quite true.
Your time is limited, so don't waste it living someone else's life. Don't be trapped by dogma - which is living with the results of other people's thinking. Don't let the noise of others' opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.
When I was young, there was an amazing publication called The Whole Earth Catalog, which was one of the bibles of my generation. It was created by a fellow named Stewart Brand not far from here in Menlo Park, and he brought it to life with his poetic touch. This was in the late 1960's, before personal computers and desktop publishing, so it was all made with typewriters, scissors, and polaroid cameras. It was sort of like Google in paperback form, 35 years before Google came along: it was idealistic, and overflowing with neat tools and great notions.
Stewart and his team put out several issues of The Whole Earth Catalog, and then when it had run its course, they put out a final issue. It was the mid-1970s, and I was your age. On the back cover of their final issue was a photograph of an early morning country road, the kind you might find yourself hitchhiking on if you were so adventurous. Beneath it were the words: "Stay Hungry. Stay Foolish." It was their farewell message as they signed off. Stay Hungry. Stay Foolish. And I have always wished that for myself. And now, as you graduate to begin anew, I wish that for you.
Langganan:
Postingan (Atom)
